Blog

RSS
  • Zuperyouth 3 Tribute To US – Canada: Sekuel Dahsyat yang Penuh Sesak

    Mai 17 2010, 13h11

    Sat 15 May – ZUPER YOUTH 3!!! US-CANADA

    Lagi, gelaran acara Zuperyouth The Series (diganti menggunakan huruf ‘Z’ karena nama Superyouth ternyata sudah dipakai untuk sebuah organisasi kepastoran) diadakan pada Sabtu 15 Mei 2010 yang kali ini bertempat di Emax Cafe Kemang. Tempat yang strategis dan suasana yang cozy di dalam venue membuat penonton muda usia terus menerus berdatangan untuk menyaksikan band-band yang pada hajat kali ini mengusung tema Tribute to US-Canada indie rock/pop. Semakin banyak variasi yang ditawarkan dan semakin banyak pula band yang ingin tampil di acara yang masih mengusung konsep “small and low budget” ini. Dari band yang sangat anak muda sekali sampai band-band eksperimental nan galau namun indah dicoba ditampilkan disini.

    Acara dimulai sekitar pukul tiga sore oleh Alphabetical Order yang anak muda sekali karena membawakan Paramore. Lagu-lagu yang enerjik macam Misery Business pun tak luput dibawakan. Namun penonton masih terlihat santai dan tak terlalu ramai. Setelah itu Vuje dengan lembutnya membawakan lagu-lagu dari band yang cukup lama tidak kita dengar, Sixpence None The Richer. Lagu-lagu seperti Don’t Dream It’s Over dan Kiss Me cukup mengingatkan kita akan memori-memori lama semasa labil dulu (bagi yang sudah merasa dirinya matang). Setelah, berlembut-lembutan tiba giliran Otherspace mengacak-acak panggung dengan menjadi Thurstoon Moore Cs dari Sonic Youth. Dibuka dengan Silver Rocket yang agresif lalu berlanjut dengan Sugar Kane yang agak-agak indie pop, Otherspace mengakhirinya dengan eksperimentasi tingkat lanjut dengan lagunya BS, yang sarat akan noise rock dengan raungan efek-efek yang menonjol. Satu hal yang patut disayangkan adalah mereka bermain di kala mentari masih bersinar cerah.

    Berlanjut setelah itu The Pocket mengalihkan kekasaran dan kekotoran noise dengan aroma-aroma new wave/new age dari The Bravery. Lalu Previously Unreleased membawa rock garasi The Strokes ke dalam kafe. Menariknya adalah dua orang yang diajak bergoyang bersama ke depan panggung menjadi hiburan tersendiri disamping lagu-lagu The Strokes seperti Someday, Last Night dan Reptilia. Setelah itu Marching March yang ternyata adalah one-man band naik membawakan repertoire dari band kemanatahusekarang, Phantom Planet. Dibantu oleh rekannya yang bermain bass dan loop pengganti drum, MM membawa memori SMA (bagi yang seangkatan dengan saya ) dengan California dan Lonely Day. Dan seorang vokalis wanita berjilbab yang terlihat malu-malu tapi memiliki suara yang aduhai naik panggung ketika lagu mereka sendiri dibawakan. Setelah itu adalah Break yang mencoba mengcover setlist nan gahar dari band bernama Magrib, dan ah, lagi-lagi saya tak sempat menyaksikannya.

    Break yang tenang dan sendu namun gahar itu berlanjut dengan The Saymour yang langsung mengusung riff paling familiar dari Seven Nation Army-nya The White Stripes. Berlanjut dengan band yang suka menunda-nunda hari Senin, Delay Monday yang membawakan repertoire musuh dari The Bravery, siapa lagi kalau bukan The Killers. Sepertinya cocok sekali mereka membawakan musik-musik seperti ini karena musik DM sendiri terdengar begitu new wave dengan sentuhan-sentuhan keyboard/synth dan sound-sound gitar ala U2. Segera saja lagu-lagu macam When You Were Young, Human, dan Somebody Told Me langsung membuat crowd di depan bersing along ria. Setelah itu Vox Humana mengambil alih dengan menjadi Deerhunter. Nama Vox Humana sendiri diambil dari salah satu judul lagu Deerhunter. Musik indie rock/shoegaze/eksperimental khas selatan Amerika langsung menguasai panggung.

    Lalu Aksi Dan Reaksi naik ke atas panggung dengan kira-kira membawa 13 orang. Poetra A.H, sang arsitek bak Kevin Drew yang mengomandoi rekan-rekannya membawakan lagu-lagu dari Broken Social Scene yang sarat akan gedumbrangan dan eksperimentasi nan harmonis. Dibuka dengan lagunya sendiri Parallel Synchronized Randomness yang dibantu oleh rekan-rekan dari Folkaholic, lalu berlanjut dengan Fire Eye’d Boy dan diakhiri dengan Pacific Theme, lengkap dengan brass section yang seksi. Biarpun ada sedikit kendala sound dan jeda yang cukup lama di setiap pergantian lagu, penampilan Aksi Dan Reaksi patut mendapat jempol malam itu. Newberry naik setelahnya dengan (lagi-lagi) membawakan band yang kental pengaruh new wave-nya, Angels And Airwaves.

    Setelah Newberry menghardik panggung dengan kerennya, tiba giliran Mind Deer naik panggung. Band yang masih lugu ini sudah agak tidak minder lagi membawakan lagu-lagu penyanyi asal Kanada, Leslie Feist seperti One Evening. 1, 2, 3, 4 dan Mushaboom. Lalu setelah berasyik masyuk ria dengan Feist tibalah bergalau ria bahagia dengan Explosions In The Sky yang dibawakan oleh Eveningfall. Dibuka dengan The Moon Is Down yang gelap, mereka dihadapkan pada crowd yang rata-rata malam itu memang menantikan band-band yang membawakan musik postrock/eksperimental. Dan Eveningfall bisa membuktikan kalau mereka tidak mengecewakan membawakan EITS yang berlanjut dengan Yasmin The Light dan akhirnya ditutup dengan klimaks yang orgasmik pada The Only Moment We Were Alone.

    Kelar Eveningfall, Fever To Tell dengan beraninya (lagi-lagi) mengacak-acak panggung dengan membawakan repertoire Yeah Yeah Yeahs. Band ini patut mendapat perhatian karena hampir semua personelnya wanita dan mereka sungguh liar (para lelaki suka itu!). Vokalisnya yang merupakan eks dari Amazing In Bed begitu menghayati peran sebagai Karen O membawakan lagu-lagu macam Soft Shock atau Maps yang mampu membuat crowd bersing along. Selanjutnya The Cello juga mebuat penonton bernyanyi bersama ketika menyanyikan lagu-lagu Weezer seperti Undone (The Sweater Song). Begitupun Interplay yang membawakan Interpol. The Heinrich Maneuver, C’mere dan Evil disambut meriah oleh sebagian penonton disana.

    Menjelang akhir acara, lagi-lagi band instrumental postrock yang kemarin bermain cemerlang di Superyouth 2, Folkaholic kembali memberikan ekstase berlebih dengan membawakan setlist dari Caspian. Seperti Eveningfall, band ini juga mampu mengundang klimaks orgasmik ciamik ketika membawakan Moksha yang cantik dan bersemangat. Lalu berlanjut dengan Missing Football Time, lagu andalan Folkaholic yang tak bosan-bosan dibawakan dan didengarkan, dan berakhir dengan Sycamore yang sendu namun pada akhirnya lagu ini bisa membawa momen “build up to climax” yang benar-benar dahsyat. Apalagi ketika akhir lagu rekan-rekan mereka datang membawa drum dan perkusif nan eksplosif menghantam saraf hingga ubun-ubun. Sungguh luar biasa!

    Akhirnya, acara ditutup dengan band yang lebih gila lagi, Hey!down yang membawa 21 orang ke atas panggung. Sungguh penampilan yang out of the box dengan membawakan repertoar band dari Kanada, The Arcade Fire. Kumpulan dari band-band seperti Marche La Void, Everybody Loves Irene dan Little Space Donkey ini benar-benar rusuh nan gaduh ketika membawakan Wake Up, Neighborhood # 2 (Laika), Rebellion (Lies) dan akhirnya yang paling klimaks No Cars Go. Sungguh luar biasa melihat para sesepuh ini bermain hingga akhirnya harus dirusak dengan insiden pengusiran oleh pihak Emax.

    Walau masih banyak kekurangan dari segi sound, tata panggung yang monoton (entah mengapa in-focus di atas tidak jadi digunakan) dan adanya ketidakenakan di akhir-akhir, acara ini tetap memberikan kepuasan yang tak terperikan bagi para penonton yang datang malam itu. Event yang kecil namun mampu memberikan ruang apresiasi dan ekspresi yang besar bagi para muda-mudi di Jakarta. Semoga acara ini tetap berlanjut dan memberikan dampak yang lebih besar lagi bagi scene musik ibukota atau bahkan Indonesia. Godspeed You! Zuperyouth 3.
  • Superyouth 2! Scandinavia…Super Show for Super Music!

    Abr 11 2010, 15h33

    Sat 10 Apr – Super Youth 2!!! - Scandinavia (a Tribute to Scandinavian Indiepop/Indierock/Synthpop)

    Sebuah acara dengan konsep ‘small gig with low budget’ yang menghadirkan band-band yang mempersembahkan musik-musik dari negara-negara skandinavia macam Swedia, Islandia, Finlandia, Norwegia, dan Denmark. Namun dengan konsep di atas ternyata acara ini mampu menyedot penonton yang begitu banyak. Berbagai kalangan menghadiri acara ini, terutama anak-anak muda yang terdiri dari para akademisi, peselancar dunia maya, pengutak-atik radio, peraba wanita, tengkulak, hingga hedon-hedon labil (meminjam istilah seorang teman); semua datang ke FX Music untuk satu tujuan: mencuci mata. Tidak, maksud saya menikmati dan mengapresiasi musik.

    Penampilan pertama dimulai sekitar jam 5 sore oleh sebuah band yang luar biasa biasa bernama Mind Deer. Sekumpulan pemula yang pemalu ini membawakan lagu-lagu dari band Finlandia, Le Futur Pompiste yang kental akan indie pop Eropanya. Lalu setelah itu Satu naik panggung sebagai Saybia, yang berasal dari Denmark. Lagu-lagu seperti The Day After Tomorrow dan The Second You Sleep pun tak luput dibawakan. Kelar Satu turun, berikutnya adalah Break Magrib. Saya sendiri kurang begitu tahu band ini karena saya tidak menonton mereka.

    Sekitar pukul 18.30 setelah break magrib (yang katanya sepi penampilannya), acara digeber lagi oleh The Firm yang berpura-pura menjadi Jens Lekman. Vokalis dengan suara berat agamis bak Ian Curtis dan pengikutnya alhasil berhasil membawakan lagu-lagu folkpop ala Jens Lekman. Selanjutnya White Collar Boys tampak tertekan sewaktu membawakan repertoar Sondre Lerche. Ditinggal personel lainnya dan hanya menyisakan satu orang dengan satu gitar di depan khalayak ramai bukanlah hal yang mudah, namun Sondre Lerche pun pasti akan menyemangatinya bila ia datang kemarin.

    Setelah itu Simetri Lipat mengambil alih dan berperan sebagai salah satu band yang sudah pasti ditunggu-tunggu oleh sebagian besar penonton disana, Mew. Dibuka oleh Circuitry Of The Wolf, kita segera tahu bahwa band ini memang qualified untuk membawakan repertoar band asal Denmark tersebut. Dan lagu-lagu berikutnya macam She Spider, Am I Wry? No, dan Apocalypso mampu membuat crowd meracau ria. Lalu Sparkle Afternoon menyeruak membawakan musik instrumental/postrock dari pg.lost. Benar-benar cukup membahana ditambah wanita manis memainkan glockenspiel yang manis pula. Lagu-lagu macam Kardussen dan Yes I Am mampu menciptakan suasana atmosferik sore itu.

    Selanjutnya The Telegraph Reverb berpura-pura seperti The Radio Dept. Berbekal synth, laptop dan gitar mereka membawakan lagu-lagu seperti It’s Personal dan I Wanted You To Feel The Same dengan malasnya. Setelah bermalas-malasan datanglah sebuah band postrock ibukota yang tengah menanjak, Folkaholic as Immanu El. Malam itu mereka dibantu oleh vokalis Delay Monday dan beberapa additional player yang salah satunya sungguh membuat para lelaki menganga. Saya rasa penampilan terdahsyat adalah mereka. Bermain bersih dan mampu membuat titik-titik dimana kita terjebak dalam trance yang merasuk. Apalagi ketika lagu mereka, Missing Football Time dibawakan, sungguh memuncak dan crowd pun berdecak-decak.

    Setelah Folkaholic, Funny Little Dream didaulat ke atas panggung sebagai duo dari Swedia, Club 8. Dengan vokalis manis bersuara khas grup-grup folkpop, FLD sukses membuat kita bergoyang dengan lagu-lagu macam Love In December dan Everlasting Love. Berikutnya Bonchie And Her Littletrees juga tak kalah menariknya membawakan repertoar The Cardigans. Vokalis yang atraktif dan lagu-lagu asyik seperti Carnival, For What It’s Worth dan Rise and Shine mampu membuat penonton bernyanyi bersama. Sungguh tercipta sebuah keintiman disitu. Ditambah lagi setelah itu Flyafter naik sebagai duo yang baru saja datang ke Indonesia, Kings Of Convenience. Walaupun tidak se-upbeat Bonchie, namun tetap saja banyak yang ber-sing along ketika I’d Rather Dance With You dan Boat Behind dibawakan.

    Lalu ada Vuje yang membawakan lagu-lagu lawas dari Roxette. Dengan konsep akustik minimalis mereka pun mampu mengundang decak kagum karena didukung pula oleh kualitas suara sang vokalis yang lembut dan indah. Berikutnya yang sudah pasti ditunggu-tunggu adalah L’Alphalpha, band yang tengah merampungkan EP-nya ini segera bertindak sebagai Sigur Ros. Berbekal personel yang banyak (benar-benar mengingatkan kita pada Sigur Ros dan Amiina-nya) dan alat yang niat pula, L’Aphalpha mampu tampil maksimal di Superyouth kemarin. Mereka membuka repertoar dengan Vaka yang syahdu, lalu Olsen-Olsen yang megah, dilanjutkan dengan lagu mereka sendiri yang diselipi hook dari Hopippola dan akhirnya menutupnya dengan Festival. Dengan bermain maksimal seperti itu dan sepertinya masih kurang, lantas crowd pun seperti tak ingin L’Alphalpha beranjak. Setelah bernegosiasi akhirnya mereka melayani permintaan ‘encore’ penonton dengan membawakan lagu mereka sendiri yang tak kalah rancaknya.

    Merasa bahwa L’Alphalpha sudah mencapai titik kepuasan para penonton, maka crowd pun berangsur-angsur pulang dan venue menyepi, padahal masih ada satu grup lagi bernama Denging yang akan tampil membawakan repertoar Royksopp, grup electropop dari Norwegia. Berbekal Macintosh, keyboard, firebox dan alat-alat perkusi, mereka menghentak lantai dansa dengan musik-musik techno yang upbeat. Penampilan penutup yang cocok untuk disambung ke Minus di lantai 2 bagi yang berniat untuk berdunia gemerlap.

    Dan selesailah acara Superyouth 2! Scandinavia yang dahsyat ini. Para penonton dan panitia pasti bahagia dan berharap akan ada Superyouth 3 atau acara-acara lainnya yang mampu membuat kita para anak muda merasa bahwa sudah saatnya berkreasi itu tidak harus mahal dan serba ada.
  • How to Kill your Ears with uneasy-listening Music? Esensi Mendengarkan Musik

    Mar 29 2010, 15h18

    Tulisan ini dibuat di kala saya sedang memahami musik Godspeed You! Black Emperor, sebuah band postrock lawas yang begitu banyak disukai orang. Saya sungguh heran kenapa musik mereka yang notabene begitu sulit dicerna begitu digemari dan menginspirasikan banyak orang, terutama para musisi. Padahal begitu banyak musik serupa yang lebih gampang dinikmati. Tetapi ini beda, hampir semuanya yang berkecimpung di lembah postrock ‘menyembah’ pada band yang satu ini. Saya pun semakin penasaran dan mencoba begitu kuat untuk menghayati band asal Kanada tersebut. Ternyata di dalam menghayati musik mereka saya mendapatkan pengalaman yang sungguh luar biasa yang tidak bisa didapatkan pada musik-musik lain.

    Tidak hanya dalam mendengarkan GY!BE saja, banyak contoh lain yang menghenyakkan kita bahwa musik yang susah dicerna itu bukan berarti musik yang jelek, atau bahkan dianggap sampah. Sesungguhnya itu adalah sebuah pernyataan yang salah besar. Idealis, tidak laku, underrated, underground, cutting edge, atau apalah itu tidak sama dengan musik yang harus dihempaskan jauh-jauh ke dalam kubangan neraka lapis kedelapan. Sesungguhnya esensi dari musik-musik tersebut adalah proses dimana kita mendapatkan pengalaman-pengalaman yang tidak pernah kita rasakan sebelumnya ketika mendengar musik-musik yang boleh dikatakan easy listening atau mainstream.

    Misalkan dari mendengarkan GY!BE kita bisa menemukan keepikan, kemegahan, dan juga kejeniusan dari musik yang mereka ciptakan. Memang, mungkin kita sudah muak atau bosan ketika pertama kali mencoba mendengarkannya. Bayangkan, hampir semua lagu mereka rata-rata berdurasi di atas 10 menit, dan tempo yang mereka ciptakan tidak selalu sama. Pattern yang diolah tidak harus selalu seperti pada musik-musik pada umumnya, intro, verse, chorus, reff, bridge, coda yang berulang-ulang pada standar yang sama. Kita akan menemukan instrumen-instrumen umum seperti gitar, bass dan drum berpadu dengan orkestrasi, noise, atau paduan aneh lainnya yang menciptakan gubahan yang apik dan lain dari biasanya.

    Atau contoh lain yang lebih banyak dikenal publik mungkin adalah Radiohead dan evolusi musiknya. Pada album-album awal seperti Pablo Honey dan The Bends kita akan menemukan sebuah band muda dari Inggris yang membawakan musik alternative 90an. Namun beranjak ke OK Computer, Radiohead menapak jauh ke depan dengan menciptakan sebuah kompilasi avant garde yang dahsyat. Mereka berani mengambil langkah itu, meninggalkan zona nyaman mereka dan berevolusi ke sesuatu yang aneh. Mungkin orang akan begitu sulit lagi menerima album-album berikutnya. Namun, pahami dan coba untuk dengarkan lebih seksama lagi, maka kita akan mendapatkan kenyelehan Kid A, kemegahan Amnesiac, dan kerumitan yang indah di Hail to The Thief. Karena sepertinya Thom Yorke cs tak peduli apa kata orang. Yang mereka pedulikan hanya menciptakan musik seperti yang mereka inginkan. That’s all,period

    Jadi, bila ingin lebih dari sekedar mendegar musik, cobalah untuk lebih merambah ke’alam lain’, dalam artian jangan selalu terpaku pada musik yang kita suka dan mudah dicerna. Cobalah lahap habis sebuah band dan dengarkan satu albumnya penuh. Karena rasanya kalau kita hanya mendengar single dari band tersebut, yang notabene pasti enak dan dapat diterima telinga, kita seperti kurang menghargai musisi yang kita dengarkan tersebut. Kita jadi kurang mengapresiasi mereka. Mungkin mereka ingin menyampaikan bahwa album ini ingin begitu, album itu ingin seperti apa, bedanya apa dari album-album mereka yang lain. Kan nikmat kalau seperti itu, kita seperti berpertualang dalam musik itu sendiri.

    Tulisan ini juga dibuat bagi yang menganggap musik itu lebih penting dari hidupnya sendiri. Haha..tidak, tidak, itu sungguh berlebihan. Yang pasti bukan sekadar menggangap musik itu sebagai hiburan atau selingan sehari-hari. Kalau mau yang seperti itu tinggal nyalakan saja televisi. Seperti kita tahu, begitu banyak jenis musik di dunia ini dan semuanya beragam. Pekakan sedikit telingamu menelusuri musik-musik yang tidak familiar. Dengan begitu telinga ini tak akan memerah karena bosan hanya mendengar yang itu-itu saja. Saya menulis ini pun bukan berarti bahwa saya sudah merasa banyak mendengarkan jenis musik. Saya pun masih belajar untuk lebih banyak memahami esensi-esensi musik, terutama yang susah dicerna di awal-awal. Karena, seperti sebuah suara di otak saya, pendengar musik yang cerdas adalah pendengar yang mau memahami tidak sekadar mendengarkan.
  • The Musical Journey of Idham Saputra

    Out 14 2009, 13h10

    In 1987, when Hair metal and glam rock put their crown on the throne, a cutest boy alive was born. His name is Nicho, Oopss..Idham Saputra. Who was he? Itu gw, dodol!! Hahaha…I’m not going to tell about myself, it’s important but not the one. What I’d like to tell you it’s my musical journey. Hoo, it seems not important, huh? I don’t give a damn! Just kicking around in these jobless days. Haha..

    Several years later, in 1991 Nirvana took over the glorious of hair metal with their new musical energy called Grunge. So do you think I listened to Nirvana at that time? Of course not! Mana ngerti gw waktu itu! Yaah, era 90an pun berlangsung dengan cerianya bagi gw yang belum mengerti apa-apa tentang musik. I Just listened to what most people listened at that time: some 90s hits, one-hit wonder hits, or just followed the stream. I didn’t put attention to Britpop, alternative, or some indie stuff which really happening in 90s.

    Yaah, masa-masa SD gw kebanyakan denger-dengerin sepintas lalu aja apa yg ada di tv waktu itu. Klo masih inget acara-acara kayak Album Minggu, Simfoni, atau Delta pasti waktu itu sering denger lagu-lagunya Dewa 19, Slank, Nike Ardilla, Project P, dan artis-artis Indonesia yg lagi ngehits saat itu. Time goes by and I became a bullied boy in junior high school..huhu such a pity! Dan masuklah musik ska ke belantara tanah air kita. Tipe X, Jun Fang Gung Foo, Purpose, Noin Bullet, dll menyerbu gendang telinga gw saat itu. Berjoget ska, beli kaset saban minggu (harganya waktu itu masih 14 ribuan), sampe sok-sokan bikin sleeve album band sendiri (padahal kaga ngeband) mengisi hari-hari musikal gw saat itu.

    Beranjak kelas 3 SMP serbuan musik-musik luar mulai menggerogoti jati diri gw. Waktu itu gara-gara pengaruh MTV juga kali ya yang mulai disiarin penuh di Global TV. Gw penasaran banget tuh sama Blink 182. Terus The Cranberries, Gorillaz, sama Coldplay bikin gw begitu kesengsem waktu itu. Nah, ketiga grup itu yg jadi cikal bakal gw suka sama Britpop.

    Becoming a newbie in senior high school is something desirable. So many things affected my musical treasury. Dan disinilah gw mulai menyukai Britpop, terutama band paling berpengaruh di kehidupan gw sampe sekarang, Radiohead. Waktu itu kan juga jaman-jamannya awal gw ngeband2 gitu deh. Era itu selain Radiohead gw juga mulai tahu Blur, Suede, Oasis, Weezer, Nirvana, sama Pearl Jam. Tapi kelas satu juga sedikit banyak terpengaruh punk-punk gitu, akibat pengaruh jadi anak punk jalanan gw! Setiap hari kerjaan gw ngemper di sekitar Blok M, homeless, rambut dicat, pake anting, sama atribut2 punk lainnya lah. But sorry to say, that’s just hoax. Hahaha…mana mungkin lah anak cupu kaya gw gini kaya gitu!

    Kelas 2 SMA tuh gw bener-bener jadi Britpoper abiss..semua kaset selain yg dari Inggris gw kasihin temen gw waktu itu. Era-eranya gw demen sama Mew banget nih! Kelas 3 juga gitu. Mulai masuk Manic Street Preachers, The Smashing Pumpkins, REM. Gw ngeband juga mulai bikin2 lagu sendiri. Just 3-piece of dumb musicians played 3-chord music. Sukses juga tuh manggung sekali. Hahaha…

    Lulus SMA tahun 2005 gw masih aja dengerin Britpop. Gw merasa emang ini nih
    jati diri gw. Awal-awal masa kuliah gw terpengaruh banget sama Manic Street Preachers. Tapi medio 2006 sempet stuck gw mendengarkan lagu-lagu yg gitu2 aja. Hingga akhirnya gw berkenalan sama tetangga sebelah gw di kosan yg gila musik melebihi gilanya orang sama wanita (halah!). Sama dialah gw dicekokin macem2 musik-musik baru yg belom pernah terjamah telinga gw sebelumnya. 2007 tuh kan juga gw baru masuk RTC UI, sebuah radio mahasiswa yg bikin gw makin tahu banyak aja sama musik. Ketemu orang-orang baru yg memiliki taste of music yg sama. Saling berbagi dan memberitahu lah kita.

    Gw juga mulai baca2 majalah musik dan penasaran sama musik-musik yg baru direview. Wah, apalah ini namanya banyak banget yg mulai masuk ke telinga gw waktu itu. Dari mulai indie pop, folk, post-rock, post metal, metal, elektronik, noise rock, etc. weleh2, itu masih berlangsung sampe sekarang. Tapi tetep kok gw gak ninggalin Britpop dan Radiohead. Hahaha…

    Au deh, mau nulis apa lagi gw…ngookkk!! Zzzz…..